Senin, 31 Agustus 2009

Jagalah Allah Pasti Allah Menjagamu

Diambil dari mailing list assunnah@yahoogroups.com
Message: 16
Date: Mon, 8 Aug 2005 10:19:38 +0800
From:
Subject: >>Jagalah Allah Pasti Allah Menjagamu<<
Judul: Jagalah Allah Pasti Allah Menjagamu
Kategori: Nasihat Ulama
Dari Abil Abbas Abdullah bin Abbas a dia berkata :
"Dahulu aku pernah berada di belakang Rasulullah, lalu beliau bersabda :
"Wahai anak kecil sesungguhnya aku ingin mengajarimu beberapa kata,
jagalah Allah, maka pasti Allah menjagamu, jagalah Allah pasti kau akan
menjumpai-Nya dihadapanmu. Apabila engkau meminta maka mintalah kepada
Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan
kepada Allah. Ketahuilah, seandainya suatu umat berkumpul untuk
memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat
tersebut kecuali yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan apabila mereka
berkumpul untuk memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkanmu
kecuali dengan apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah di
angkat pena dan telah kering tinta" (HR. Tirmidzi, dan dia berkata
hadits hasan shohih).
Di dalamiwayat selain Tirmidzi : "Jagalah Allah maka engkau akan
mendapatkan-Nya dihadapanmu, kenalilah Allah di kala senang maka Dia
akan mengenalmu di kala susah. Ketahuilah sesungguhnya apa yang tidak
menimpamu maka dia tidak akan menimpamu dan apa yang akan menimpamu
pasti dia akan menimpamu (tidak akan meleset). Dan ketahuilah bahwa
kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan dan setelah
kesulitan pasti ada kemudahan."
Takhrij Hadits
Hadits shohih, hadits ini memiliki 7 jalan dan lafadznya berbeda-beda.
Dan yang paling baik adalahiwayat Hanasy ash-Shon'ani dari Ibnu Abbas a,
dia berkata : "Dahulu aku pernah dibelakang Rasululllah ......" Riwayat
ini dikeluarkan oleh Tirmidzi 2635 bersama Tuhfatul Ahwadzi dan ini
lafadz beliau, Ahmad 1/293, Ibnu Wahab dalam Al-Qodr 28, Abu Ya'la dalam
musnadnya 2556, Ibnu Sunny dalam Amalul Yaum Wal Laila 327 dan Thobrani
dalam Do'a 42 dari jalan Laits bin Sa'ad dari Qois bin Hajjaj dari Ibnu
Abbas.
Syaikh Salim bin 'Id Al-Hilali mengatakan : Isnadnya shohih dan
perowi-perowinya tsiqoh.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad 1/203&207, Baihaqi dalam Asma'
Wa Sifat hal 97, Lalikai dalam Syarh Ushulu I'tiqod Ahli Sunnah Wal
Jama'ah 1094&1095 dari jalan lain dari Qois bin al-Hajjaj. Dan juga
dikuatkan oleh Yazid bin Abi Habib dari Hanasy, dan ini dikeluarkan oleh
al-Ajuri dalam Syari'ah hal 198)
Syaikh Salim mengatakan : "Isnadnya shohih, meskipun sebagian
jalan-jalannya yang lain tidak luput dari kelemahan tapi pegangannya
adalah yang telah di sebut di atas. Wallahu a'lam.1 1. Shohih kitabul
Adzkar wa dhoifuhu Syaikh Salim bin 'Id Al-Hilaly 2/999-1000.
Kedudukan Hadits
Ibnu Rojab v berkata : "Hadits ini mengandung wasiat yang berharga dan
kaidah-kaidah umum tentang hal-hal penting dalam agama, sampai-sampai
sebagian Ulama mengatakan 'ketika aku merenungi hadits ini aku sangat
tertarik sekali dan hampir-hampir aku gemetar.' Maka sangat disayangkan
jika ada yang tidak tahu dan tidak memahami makna hadits ini."
Penjelasan Hadits
Nabi bersabda :
"Jagalah Allah maka Allah pasti menjagamu".
Maknanya adalah jagalah perintah-perintah, larangan-larangan dan
batasan-batasan serta hak-hak Allah yaitu dengan menjalankan apa yang
Allah dan Rasul-Nya perintahkan serta menjauhi apa yang di larang.
Barangsiapa yang melaksanakan hal itu maka Allah telah memujinya dalam
firman-Nya :
"Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang
selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua
peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang
Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan
hati yang bertaubat." (QS.Qoof: 32-33)
Termasuk hal yang penting untuk di jaga adalah sholat sebagaimana firman
Allah ta'ala :
"Jagalah segala sholatmu dan sholat wustho (shalat ashar)." (QS.
Al-Baqoroh : 238)
Allah sangat memuji orang yang menjaga sholatnya:
"Dan orang yang selalu menjaga sholat mereka." (QS. Al-Ma'arij : 34)
Allah juga memerintahkan untuk menjaga sumpah:
"Dan jagalah sumpahmu" (QS. Al-Maidah : 89)
Dan memerintahkan untuk menjaga kemaluan :
"Dan orang laki-laki dan orang perempuan yang menjaga kemaluan-kemaluan
mereka." (QS. Al-Ahzab: 35).
Sabda Nabi : "Maka pasti Allah menjagamu" maknanya adalah barangsiapa
yang menjaga perintah-perintah Allah serta menjalankan
kewajiban-kewajiban dan meninggalkan yang dilarang maka pasti Allah
menjaganya, karena balasan itu tergantung dari perbuatannya.
Allah berfirman :
"Jika kalian menolong Allah maka pasti Allah menolong kalian" (QS.
Muhammad : 7).
Penjagaan Allah kepada hamba-Nya di dunia ini berupa penjagaan terhadap
kebaikan dan kemaslahatan dunia, badan, harta serta keluarganya.
Allah berfirman :
"Sedang ayahnya adalah seorang yang sholeh" (QS. Al-Kahfi : 82).
Imam Ibnu Katsir v berkata (tentang tafsir ayat tersebut) : "Di dalam
ayat ini terdapat dalil bahwa orang yang sholih itu keturunannya akan di
jaga oleh Allah. Barokah ibadahnya akan meliputi mereka di dunia dan di
akhirat. Dan dengan syafaatnya di hari akhir kelak mereka akan di angkat
derajatnya di surga untuk menyejukkan pandangan orang tua mereka,
sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, Said bin
Jubair mengatakan bahwa Ibnu Abbas menafsirkan ayat di atas dengan
ucapan beliau : Mereka berdua di jaga dengan sebab kesholehan kedua
orang tua mereka." 2 2. Tafsir Ibnu Katsir 3/134.
Barangsiapa yang menjaga Allah pasti Allah menjaganya dari segala mara
bahaya. Sebagaimana perkataan salaf : "Barangsiapa yang bertakwa kepada
Allah, maka dia telah menjaga dirinya, dan barangsiapa yang tidak
bertakwa maka dia telah menelantarkan dirinya sendiri sedang Allah tidak
butuh kepadanya."
Diantara penjagaan Allah yang amat menakjubkan adalah penjagaan-Nya bagi
seseorang yang bertakwa dari binatang buas. Bahkan binatang buas
tersebut menjadi penjaganya seperti yang terjadi pada Safinah pembantu
Rasulullah ketika perahunya pecah dan dia terdampar di sebuah pulau.
Lalu dia melihat seekor harimau tapi harimau tersebut malah menunjukinya
jalan keluar hingga harimau itu berhenti seraya bersuara (meraung)
seakan-akan dia mengucapkan selamat berpisah dan akhirnya harimau itupun
kembali ketempatnya semula. 3 3. Diriwayatkan oleh Tabrani dalam
"Al-Mu'jam Al-Kabir" dengan sanad yang hasan lihat juga "Jami'ulum Wal
Hikam" hal 468 oleh Ibnu Rajab.
Penjagaan Allah bagi hamba-Nya juga berupa penjagaan terhadap agama dan
keimanannya dari segala syubhat yang menyesatkan dan dari syahwat yang
diharamkan hingga dia bertemu Allah dalam keadaan diridhoi-Nya. Oleh
karena itu Nabi berdoa agar di jaga oleh Allah ta'ala :
"Ya Allah, jika engkau mewafatkan diriku maka ampunilah aku, dan jika
engkau membiarkan diriku hidup maka jagalah aku sebagaimana engkau
menjaga orang-orang yang sholeh." [4] 4. HR. Bukhari 8/169.
Nabi Yusuf di jaga oleh Allah dari fitnah yang menyesatkan dan dari
syahwat yang diharamkan, Allah berfirman :
"Demikianlah kami palingkan dia dari kejelekan dan kekejian,
sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba kami yang ikhlas" (QS. Yusuf : 24)
Kebersamaan Allah Dengan Hambanya yang Bertakwa
Nabi bersabda :
"Jagalah Allah pasti kau akan menjumpai-Nya dihadapanmu." Barangsiapa
yang menjaga perintah-perintah Allah dalam diri dan keluarganya serta
istiqomah di atas al-Quran dan Sunnah, maka Allah pasti bersamanya [5]
5. Arti kebersamaan ini bukan seperti yang diyakini orang-orang wihdatul
wujud (Manunggaling Kawulo Gusti) dari kalangan extrim sufi yang
meyakini Allah bersatu dalam diri makhluk-Nya atau hamba-Nya yang sholeh
-Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan-. Ini bukan dari Islam
bahkan ini adalah aqidah orang-orang Nashara tentang Isa q. Sesungguhnya
Allah bersemayam di atas Arsy-Nya di atas langit ketujuh : "Allah yang
Maha Penyayang bersemayam di atas Arsy" (QS. Thoha : 5)
Allah bersama dengan hamba-Nya dengan penglihatan, pendengaran,
pengawasan atau pertolongan-Nya,-pent. dalam setiap keadaan. Allah akan
memberinya petunjuk dan taufik, melindungi, menolong dan menjaganya.
Allah ta'ala berfirman :
"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang
yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl : 128).
Dan Allah berfiman kepada Musa dan Harun :
"Janganlah kalian berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kalian. Aku
mendengar dan melihat" (QS. Thoha : 46).
Allah juga berfirman menceritakan tentang Musa q :
"Sesungguhnya Rabbku bersamaku Dialah yang memberiku petunjuk" (QS.
Asy-Syu'ara : 62).
Dan Nabi Muhammad pernah berkata kepada Abu Bakar a :
"Janganlah kau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita" (QS.
At-Taubah : 40).
Inilah kebersamaan Allah yang khusus (bagi hamba-hamba-Nya yang beriman
dan bertakwa-pent) yang berupa pertolongan, penjagaan dan bantuan
seperti yang dijelaskan oleh para Ulama. Hal ini berlainan dengan
kebersamaan-Nya secara umum (bagi semua makhluk-Nya yang kafir atau yang
mukmin yang berupa pengawasan dan pendengaran serta penglihatan-pent)
seperti dalam firman-Nya :
"Tiada pembicaraanahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang
keempatnya" (QS. Al-Mujaadilah : 7)
Dan firman-Nya :
"Tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah padahal Allah beserta
mereka" (QS. An-Nisaa : 108).
Kebersamaan ini berupa pengetahuan Allah, pengawasan-Nya terhadap
perbuatan-perbuatan mereka dan ini mengandung ancaman.
Hukum Minta Pertolongan
Nabi bersabda :
"Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah". Yang di maksud
dengan meminta di sini adalah berdo'a dan do'a itu adalah ibadah. Allah
ta'ala berfirman :
"Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya" (QS. An-Nisaa :
32)
Allah ta'ala mengancam orang sombong yang tidak mau berdo'a kepada-Nya.
"Dan Robb kalian berfirman : Berdo'alah kepadaku maka pasti aku akan
kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembah kepada-Ku
maka pasti mereka akan masuk ke neraka jahannam dalam keadaan hina."
(QS. Al-Mukmin : 60)
Maka wajib bagi seorang Muslim untuk dia tidak meminta/berdo'a kepada
selain Allah dalam hal-hal yang tidak sanggup untuk melakukannya kecuali
Allah. Barangsiapa yang meminta/berdo'a kepada selain Allah maka dia
terjerumus kedalam kesyirikan yang Allah telah melarang hamba-Nya
darinya. Allah berfirman :
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdo'a kepada selain
Allah yang tidak bisa memperkenankan do'anya sampai hari kiamat" (QS.
Al-Ahqof : 5).
Ibnuajab v berkata: "Ketahuilah bahwa meminta kepada Allah adalah suatu
yang wajib dilakukan. Karena meminta itu mengandung arti merendahkan
diri, tunduk serta mengharapkan dan membutuhkan dari sang peminta
(hamba). Dan hal tersebut juga mengandung pengakuan akan kemampuan yang
di minta (Allah) untuk menghilangkan kesusahan dan mendatangkan
kemanfaatan. Tidak ada yang patut untuk seorang Muslim itu merendahkan
diri dan mengharapkan kecuali kepada Allah saja. Dan inilah hakikat
ibadah. [6] 6. Jamiul ulum wal hikam hal. 181
Adapun meminta manusia dalam perkara-perkara dunia yang mereka sanggup
melakukannya maka hal ini (sebenarnya tidak dibolehkan kecuali pada
waktu darurat-pent). Banyak hadits-hadits yang mencela meminta kepada
manusia dan menganjurkan untuk bersikap memelihara diri dari
meminta-minta. Nabi pernah bersabda : "Wahai Qobishoh, sesungguhnya
meminta itu tidak dibolehkan kecuali dalam salah satu dari tiga hal,
yaitu :
1. Seseorang (yang mendamaikan pertikaian antara manusia lalu) dia
menanggung beban biayanya maka boleh baginya meminta hingga dia
mendapatkannya kemudian dia berhenti dari meminta.
2. Seseorang yang tertimpa bencana hingga musnah hartanya maka boleh
baginya untuk meminta hingga dia mendapatkan hal yang bisa menopang
hidupnya.
3. Seseorang yang tertimpa kemiskinan yang sangat hingga 3 orang yang
cerdik dari kaumnya berkata: telah menimpa orang itu kemiskinan yang
sangat maka boleh bagi orang ini untuk meminta sampai dia mendapatkan
hal yang bisa menopang hidupnya.
Selain ketiga hal ini -wahai Qobishoh- meminta-minta itu termasuk
memakan harta yang haram" (HR Muslim)
Hadits di atas ini menunjukkan akan haramnya meminta-minta dan hal
tersebut tidak dibolehkan kecuali karena terpaksa seperti yang
disebutkan dalam hadits atau yang semisalnya.
Allah I memuji hamba-hamba-Nya yang memelihara diri mereka dari
meminta-minta kepada manusia. Allah ta'ala berfirman :
"Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan
Allah ; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi ; orang yang tidak
tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari
meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka
tidak meminta kepada orang secara mendesak." (QS. Al-Baqoroh : 273)
Nash-nash tentang hal ini banyak sekali, sebagiannya mengharamkan
(seperti hadits di atas) dan sebagiannya lagi memakruhkan, semisal
seorang meminta kebutuhan pribadinya kepada sahabatnya seperti
kendaraan, bejana, pensil dll. Nabi pernah membaiat sekelompok dari
sahabatnya untuk mereka tidak meminta kepada manusia sesuatupun
(diantaranya Abu Bakr, Abu Dzar dan Tsauban). Pernah salah satu dari
mereka suatu ketika jatuh cemeti atau tali kendali untanya, maka diapun
tidak mau meminta seseorang untuk mengembalikan kepadanya. Maka sebagian
Ulama ketika mengomentari hadits di atas berkata : "Didalamnya ada
penjelasan bolehnya berpegang dengan keumuman (hadits) karena mereka
dilarang meminta (secara umum) dan didalamnya juga terdapat anjuran
untuk memelihara diri dari meminta-minta walaupun sesuatu yang kecil"
Meminta Pertolongan Hanya Kepada Allah Saja
Nabi bersabda :
"Apabila engkau meminta pertolongan mintalah kepada Allah."
Seorang hamba meskipun memiliki kedudukan, kehormatan dan kekuasaan dia
masih lemah dan fakir (membutuhkan) untuk mendapat manfaat dan untuk
terhindar dari kemudharatan. Oleh karena itu wajib baginya meminta
pertolongan kepada Allah saja untuk mendapatkan kebaikan dunia dan
akhirat. Barangsiapa yang di tolong Allah maka dialah yang beruntung dan
di beri petunjuk. Dan barangsiapa yang tidak di tolong Allah dan
dibiarkan saja maka dia orang yang merugi dan gagal. Oleh karena itu
besar sekali kedudukan ucapan (laa haula wala quwwata illa billahi).
Ucapan tersebut adalah harta karun dari surga sebagaimana yang
dijelaskan oleh Rasulullah. Karena ucapan tersebut mengandung pengakuan
bahwa tidak ada daya kekuatan bagi seorang hamba untuk berbuat kecuali
dengan pertolongan Allah ta'ala.
Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim untuk meminta pertolongan
hanya kepada Allah saja baik dalam menjalankan ketaatan atau
meninggalkan kemaksiatan atau dalam bersabar atas semua yang menimpanya
dan dalam istiqomah (di atas agama-Nya) hingga dia bertemu Allah di hari
yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak keturunan. Allah ta'ala
berfirman :
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami
meminta pertolongan" (QS. Al-Fatihah : 5).
Nabi bersabda : "Bersungguh-sungguhlah untuk berbuat yang bermanfaat dan
mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan engkau lemah" (HR. Muslim
5/521)
Iman Kepada Qodo' dan Qodar
Nabi bersabda :
"Ketahuilah seandainya suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat
kepadamu maka mereka tidak bisa memberi manfaat tersebut kecuali yang
telah ditaqdirkan Allah untukmu dan apabila mereka berkumpul untuk
memadharatkanmu maka mereka tidak bisa memadharatkamu kecuali dengan
apa-apa yang ditakdirkan oleh Allah atasmu, telah di angkat pena dan
telah kering tinta"
Di dalam hadits Rasulullah inilah terdapat penjelasan tentang Qodho' dan
Qodar, maka wajib bagi seorang hamba untuk mengimaninya. Allah ta'ala
mengetahui segala sesuatu yang dikerjakan hamba-Nya berupa kebaikan dan
kejelekan dengan terperinci dan ilmunya tidak didahului oleh ketidak
tahuan. Dan Allah maha mengetahui apa yang menimpa seorang hamba dari
kebaikan (atau musibah) dan dia telah menuliskannya di lauhul mahfudz.
Nabi bersabda: "Sesungguhnya Allah menuliskan takdir semua makhluk ini
sejak 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi" (HR.
Muslim) Beliau juga bersabda : "Sesungguhnya makhluk pertama yang
diciptakan Allah adalah al-Qolam lalu Allah mengatakan kepadanya :
Tulislah (takdir semua makhluk ini -pent), maka sejak itupun berjalan
takdir Allah hingga hari kiamat" (HR. Ahmad 5/317 dan dihasankan oleh
Syaikh al-Albani dalam Syarh Aqidah Thohawiyah hal. 294)
Seorang hamba tidak akan di timpa oleh sesuatu pun dari kebaikan dan
musibah melainkan yang telah Allah takdirkan baginya. Barangsiapa yang
akan Allah beri kebaikan maka tidak ada seorang pun dari penghuni langit
dan bumi yang bisa menghalangi kebaikan tersebut, meskipun mereka
bersatu-padu. Hal ini telah Allah jelaskan dalam al-Qur'an :
"Katakanlah : tidak ada yang menimpa kami melainkan yang telah Allah
tuliskan untuk kami" (QS. At-Taubah : 51).
Dan Allah berfirman :
"Katakanlah : sekiranya kamu berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang
telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ketempat mereka
terbunuh" (QS. Ali-Imran : 154).
Oleh karena itulah Nabi bersabda :
"Telah di angkat pena dan telah kering tinta".
Ibnu Rojab berkata : "Ini adalah kinayah/perumpamaan akan
berlalunya/berjalannya semua takdir dari waktu yang lampau. Karena
sebuah buku yang telah selesai penulisannya dan telah di angkat pena
serta berlalu lama maka tinta pena yang di buat menulis itupun kering
begitu pula yang dibuat menulis di kitab tersebut. Ini adalah
seindah-indahnya perumpamaan/kinayah" 7 7. Jami'ul Ulum Wal Hikam hal.
182
Kenalilah Allah di Kala Senang Maka Allah Akan Mengenalimu di Kala Susah
Ini adalah kata-kata mutiara Nabi yang selayaknya untuk diingat dan
disebarkan. Didalamnya ada seruan untuk selalu ingat kepada Allah di
kala senang, aman, sehat, dan kaya serta gagah perkasa. Mengingat-Nya
adalah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan
larangan-larangan-Nya serta dengan melaksanakan yang sunnah/nafilah.
Barangsiapa yang ingat Allah di kala bahagia maka Allah pasti akan
mengenalinya di kala kesempitan, kemiskinan, kesusahan dan di saat dia
berduka cita serta menderita. Berapa banyak kesusahan di dunia ini yang
menimpa seorang muslim, akan tetapi jika Allah mengenalinya maka Allah
akan membantu dan menguatkannya di atas kebenaran dan menolongnya.
Sesungguhnya Nabi Muhammad selalu mengenal Rabb-Nya di kala senang dan
bahagia hingga Allah pun mengenali/menolong beliau di kala di gua
(tsaur), di perang Badar & Ahzab. Dialah yang menolong Nabi-Nya dan
meninggikan benderanya. Demikian pula dengan Nabi Yunus q beliau selalu
mengenali Rabbnya di kala suka cita maka Allah pun mengenalinya di kala
di dalam perut ikan dan Allahlah yang menyelamatkannya.
Kemenangan Bersama Kesabaran
Nabi bersabda :
"Ketahuilah bahwasanya kemenangan itu bersama kesabaran".
Hal ini dikuatkan oleh firman Allah ta'ala :
"Berapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang
banyak dengan seizin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar"
(QS. Al-Baqarah : 249)
Dan firman-Nya :
"Jika ada diantara kalian seribu orang maka mereka akan mengalahkan 2000
(pasukan musuh) dengan seizin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang
bersabar" (QS. Al-Anfal : 66)
Sabar adalah perangai mulia yang selalu dibutuhkan oleh seorang muslim
hingga dia dapat melaksanakan perintah Allah. Bencana yang ditimpakan
Allah kepada hamba-hamba-Nya juga membutuhkan kesabaran. Begitu pula
gangguan-gangguan danintangan-rintangan yang dihadapi oleh seorang
muslim dalam perjalanan dakwahnya memerlukan kesabaran. Meninggalkan
nafsu syahwat dan larangan-larangan Allah sangat membutuhkan kesabaran.
Karena hawa nafsu itu selalu menggoda manusia akan tetapi yang bisa
selamat hanyalah yang di jaga oleh Allah ta'ala. Menjaga keta'atan
kepada Allah membutuhkan kesabaran dan demikian juga dengan memerangi
musuh-musuh Allah sangat menbutuhkan kesabaran. Karena jihad didalamnya
banyak onak dan duri. Bersabar dalam menghadapi mereka merupakan sebab
kemenangan seperti yang di jelaskan oleh Rasulullah. Kemenangan yang
dijanjikan oleh Rasulullah ini mencakup 2 bentuk jihad, seperti yang
dikatakan oleh Ibnu Rajab :
"Kemenangan itu mencakup 2 bentuk jihad, Jihad melawan musuh yang
dhohir/nampak dan jihad melawan musuh yang batin/tidak nampak (yaitu
hawa nafsu). Barang siapa yang bersabar menghadapi keduanya maka dia
akan mendapat kemenangan dan pertolongan. Dan barang siapa yang tidak
bersabar menghadapi keduanya maka dia akan kalah dan menjadi tawanan
atau terbunuh." 8 8. (Jami'ul Ulum wal Hikam 186)
Kelapangan Datang Setelah Kesempitan
Nabi bersabda :
"Sesungguhnya kelapangan datang setelah kesempitan."
Musibah, fitnah, ujian dan cobaan kadang menghujani diri seorang muslim,
semakin lama terkadang semakin bertambah dan seolah-olah dunia terasa
sempit baginya. Maka kesedihan dan kesusahan pun menghimpitnya, tapi
apabila dia bersabar dan mengharapkan pahala Allah atas musibah tersebut
serta dia meyakini bahwa semua ini telah ditaqdirkan dan ditentukan oleh
Allah dan dia tidak putus asa akan pertolongan/rahmat Allah maka dia
akan mendapatkan pertolongan, pengampunan danahmat Allah. Dan akan
datang kelapangan padanya. Dan dibalik musibah itu sebenarnya banyak
sekali hikmah dan pelajaran yang bisa dipetiknya. Allah ta'ala berfirman
:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu.
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan
(dengan macam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang
yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat" (QS. Al-Baqarah : 214).
Rasulullah pada waktu perang Ahzab ditimpa dan diuji dengan berbagai
macam ujian,asa takut, lapar, dingin dan kesulitan akan tetapi mereka
para sahabat bersama beliau selalu tegar menghadapi semua itu seperti
tegarnya gunung batu yang kokoh. Lalu datanglah pertolongan Allah.
Kemudahan Pasti Datang Setelah Kesulitan
Nabi bersabda :
"Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan."
Hal ini juga tercantum dalam firman-Nya :
"Allah akan menjadikan kemudahan setelah kesulitan" (QS. Ath-Tholaq : 7)
Dan firman-Nya :
"Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan dan sesungguhnya setelah
kesulitan ada kemudahan" (QS. Asy-Syarhu : 5-6)
Sesungguhnya kesulitan, kesedihan, kesempitan dan musibah-musibah itu
akan menjadikan seorang muslim suci dan bersih dari kotoran-kotoran
(dosa dan noda) dan akan menjadikan hatinya selalu bergantung kepada
Allah dan semakin bertambah ketergantungan ini seiring dahsyatnya
musibah dan cobaan. Seorang Muslim akan selalu merendahkan dirinya
kepada Allah dengan niat yang ikhlas. Dan inilah sebab dihilangkannya
kesulitan. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi'i pernah mengatakan :
Bersabarlah, karena kelapangan itu akan datang secepatnya
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala perkaranya maka dia
akan bahagia
Barangsiapa yang selalu menyerahkan diri kepada Allah maka dia tidak
akan ditimpa bencana
Dan barangsiapa yang mengharap kepada Allah dia akan mendapatkan
harapannya
Di dalam hadits di atas Rasulullah menekankan bahwa kemudahan tidak akan
kekal abadi selama dia mau bersabar dan mengharap pahala serta yakin
bahwa semua itu telah ditaqdirkan oleh Allah ta'ala dan tidak ada tempat
untuk melarikan diri darinya, lalu diapun tetap istiqomah di atas
agama-Nya.
Pelajaran-Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Hadits
1. Diharapkan bagi seorang guru untuk memusatkan perhatian murid sebelum
dimulainya pelajaran. Hal ini diambil dari sabda beliau : "Wahai anak
kecil, aku ingin mengajarimu beberapa kata"
2. Anjuran untuk mendidik dan mengajari anak-anak ilmu agama
3. Anjuran untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dalam hal-hal
yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Sebagaimana Rasululllah
menggunakan kesempatan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain
dengan memberikan wasiat berharga bagi Ibnu Abbas a yang membonceng di
belakang beliau.
4. Anjuran untuk bersifat jantan dan berani tapi dengan memakai akal
pikiran dan mengerahkan daya upaya. Barangsiapa yang meyakini bahwa
madharat dan manfaat itu hanya di tangan Allah dan bahwasanya yang
menimpa dirinya dari manfaat dan madharat itu dari taqdir Allah maka hal
ini semua akan menjadikannya gagah berani.
Maraji':
Qowaaid Wa Fawaid Minal Arbain An-Nawawiyah oleh Nadzim Muhammad
Sulthon, hal. 169-178.
sumber:
http://salafindo.com/viewartik...; PHPSESSID=ae4dc23b4e2f85d3115
5b1cbe49cf21d

"Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama ruh belum sampai tenggorokan.

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim

Segala puji bagi Allah , yang mengampuni dosa, menerima taubat, sangat berat siksa-Nya, pemilik kekuasaan. Tiada Ilah selain Dia, kepada-Nya lah tempat kembali. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah Yang Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya bersifat sangat penyayang kepada kaum mukminin. Amma ba'du:


Allah Subnanahu wa ta'ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. an-Nuur 31)

Taubat bukan hanya untuk orang yang berdosa lagi melakukan kesalahan saja, bahkan ia berlaku umum di setiap orang beriman yang ingin mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat.


Maka sesungguhnya di antara kebesaran nimat Allah terhadap hamba-Nya bahwa ia menjadikan pintu taubat terbuka bagi orang-orang yang bertaubat, menjadikannya sebagai fajar yang mulai bersamanya rihlah (perjalanan) kepada Allah dengan hati yang patah, air mata yang berlinang, keningnya tunduk dan lehernya merendah.


Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:


"Sesungguhnya Allah membuka tangan-Nya di malam hari agar bertaubat orang yang bersalah di siang hari, dan membuka tangan-Nya di siang hari agar bertaubat orang yang bersalah/berdosa di malam hari, hingga terbit matahari dari sebelah baratnya. (HR. Muslim: 4/2113. 2759).


Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;



"Barangsiapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya niscaya Allah menerima taubatnya." (HR.Muslim: 4/2703, 2706).


Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:



"Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama ruh belum sampai tenggorokan." HR: Ahmad 3/1532, 1330, at-Tirmidzi: 3537, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib 3/218/3143 dan al-Misykaat: 2449, 2343).


Wahai saudaraku yang mulia, ketahuilah sesungguhnya bulan Ramadhan adalah kesempatan besar untuk bertaubat kepada Allah, kembali kepada-Nya, dan memperbaharui perjanjian bersama Pencipta-mu, dan janganlah engkau termasuk orang yang tertipu, dan yang demikian bahwa berlalu bulan Ramadhan dan engkau tidak mendapat ampunan –semoga Allah melindungi kita dari hal itu-.


Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, 'Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



'Jibril 'alaihissalam datang kepadamu dan berkata, 'Wahai Muhammad, barangsiapa yang menemui bulan Ramadhan lalu ia wafat dan tidak diampuni baginya, maka ia dimasukkan ke neraka, lalu Allah I menjauhkannya. Bacalah amin. Maka aku membaca 'Amin'." (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan at-Thabrani dalam al-Kabir. Lihat: Shahih al-Jami' (70).


Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, 'Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


"Merugilah seseorang yang bulan Ramadhan datang kepadanya kemudian pergi sebelum ia mendapat ampunan." (HR. at-Tirmidzi 3545 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwa` (1/36) (6) dan al-Misykah (709).


Inilah bulan Ramadhan, bulan penuh berkah dan kebaikan. Allah memberinya keutamaan yang banyak, perkara-perkara yang terpuji. Ia adalah bulan al-Qur`an, bulan kebaikan, bulan taubat dan penebus dosa dan kesalahan. Padanya diturunkan rahmat, diangkat derajat, dibukakan pintu-pintu surga padanya, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syetan-syetan yang nakal.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, 'Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



"Apabila telah tiba bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan syetan-syetan dibelenggu."


Dan di dalam Shahih Muslim: 'Dibukalah pintu-pintu rahmat, ditutup pintu-pintu neraka jahanam, dan syetan-syetan dibelenggu." (HR. al-Bukhari 1898 dan Muslim 1079).


Wahai saudaraku yang tercinta, sungguh-sungguhlah dalam bertaubat, segeralah kembali. Maka tidak ada waktu istirahat bagi hamba kecuali di bawah pohon Thuba, dan tidak ada ketetapan bagi orang yang mencintai kecuali di hari tambahan (akhirat). Maka segeralah taubat dan berlari kepada Allah sebelum dosa-dosa mematikanmu dan segala maksiat dan kesalahan membinasakanmu. Maka terjagalah dari kelalaianmu, sadarlah dari kelengahanmu. Hari-hari terus berlalu dan lewat. Maka janganlah engkau menjadi orang yang merugi dengan zuhudmu (tidak punya apa-apa) di surga yang penuh kenikmatan. Segeralah bertaubat dan menyesali terhadap dosa-dosa yang di mana lalu.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, pemimpin umat yang pertama dan terakhir, sedangkan Allah telah mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang, tidak pernah berhenti bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya beberapa kali setiap hari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, 'Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



"Demi Allah, sesungguhnya meminta ampun dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. al-Bukhari 6307).


Hendaklah menjadi suri tauladan dan panutan utama bagimu. Janganlah engkau menunda taubat, dan tinggalkannya darimu kata-kata 'akan' dan kata-kata sejenisnya.

Benar,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran:185)
Wahai orang yang menyia-nyiakan harinya, sungguh engkau telah menyia-nyiakan kemarin. Engkau telah membunuh dirimu dengan perbuatan maksiat dan dosa. kembalilah kepada Tuhan-mu. Sesalilah kesalahanmu di sisi Allah. Tumpahkanlah air mata dalam bertaubat. Rendahkanlah diri kepada Allah dan mintalah pengampunan dari-Nya niscaya engkau mendapat-Nya senang denganmu. Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, 'Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



"Sungguh Allah lebih senang dengan taubat hamba-Nya saat bertaubat kepada-Nya dari seseorang darimu yang berada di atas tunggangannya di padang pasir, lalu tunggangan hilang darinya, sedangkan di atasnya makanan dan minumannya, lalu ia merasa putus asa darinya. lalu ia mendatangi pohon, berbaring di bawah naungannya, sedangkan dia sudah merasa putus asa untuk mendapatkan tunggangannya. Maka saat dia dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba ia (tunggangan) berdiri di sampingnya, ia pun memegang tali kekangnya kemudian berkata karena saking gembiranya: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah rabbmu. Dia salah (berbicara) karena saking gembiranya."(HR. al-Bukhari 6309 dan Muslim 2747 dan ini adalah lafazhnya).


Bagaimana pendapatmu, wahai hamba Allah? Allah merasa senang denganmu saat engkau bertaubat dan kembali kepada-Nya. Sedangkan engkau, siapakah engkau? Engkau adalah seorang hamba yang miskin, hina, lemah yang tidak mempunyai daya dan upaya. Dan Dia, siapakah Dia? Dia adalah Allah Raja semua raja, Penguasa langit dan bumi. Di tangan-Nya kerajaan segala sesuatu.


Maka, wahai saudaraku, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah. Ketahuilah, sesungguhnya Allah, tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni-Nya. Dan tidak ada hamba berdosa yang datang kepadanya kecuali Dia menerima taubatnya, Dia Maha Luas maaf-Nya, banyak ampunan, mengampuni dosa dan menerima taubat. Maha Suci Dia. Rahmat-Nya meluasai segala sesuatu.


Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:



"Allah berfirman, 'Wahai keturunan Adam, sesungguhnya selalu engkau berdoa dan mengharap kepada-Ku niscaya Aku mengampuni segala dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli. Wahai keturunan Adam, jikalau dosamu mencapai puncak langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Mu niscaya Aku mengampunimu dan aku tidak perduli. Wahai keturunan Adam, sungguh jika engkau datang dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menemui Aku dalam kondisi tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku niscaya Aku mendatangimu dengan ampunan sepenuhnya. (HR. at-Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/249-250) (127) dan al-Misykaah 4336.


Wahai saudaraku, wahai orang yang Allah telah menerima taubatmu karena meninggalkan shalat, janganlah engkau lalai dalam menunaikannya setelah itu.


Wahai orang yang Allah telah mengampunimu karena mendengarkan musik-musik, menyaksikan film-film yang merusak, sinetron-sinetron yang tidak bernilai. Janganlah engkau kembali kepada dosa-dosa besar tersebut dan bencana yang besar.


Wahai orang yang Allah telah memberikan nikmat kepadamu dengan meninggalkan mengisap rokok dan yang keji lainnya, janganlah engkau kembali kepadanya di saat yang lain setelah Allah menyelamatkanmu dari kejahatannya dan dampak negatifnya yang mengerikan.


Wahai orang yang berpuasa dari yang dihalalkan Allah I kepadanya dan tidak puasa dari memakan riba yang diharamkan Allah kepadanya dan memakan harta manusia dengan cara yang batil. Segeralah bertaubat sebelum hilangnya kesempatan.


Sebagai kesimpulan, saya katakan: saya memuji Allah bahwa Ramadhan telah sampai kepadamu, memberi nikmat kepadamu dengan bertaubat dan meminta ampun. Dan saya memohon kepada-Nya ketetapan di atas kebenaran hingga wafat.


Dan semoga Allah selalu memberi rahmat dan kesejahteraan kepada nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan sahabatnya.


Sumber: Maktabah Jaliyat Rabwah http://www.islamhouse.com

--
Mutiara Salafus Shalih:

Dari Abdullah bin Mas'ud radliyallahu 'anhu ia berkata :
"Ketahuilah hendaknya jangan satupun dari kalian bertaqlid kepada siapapun dalam perkara agamamu sehingga (bila) ia beriman ikut beriman bila ia kafir ikut pula menjadi kafir. Maka jika kamu tetap ingin berteladan maka ambillah contoh dari yang telah mati sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah." (Al Lalikai 1/93 nomor 130 dan Al Haitsamy dalam Al Majma' 1/180)

Dari Yunus bin Zaid dari Az Zuhri ia berkata :
"Ulama kami yang terdahulu (salaf) selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As Sunnah itu adalah keselamatan dan ilmu akan tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia sedang dengan hilangnya ilmu hilang pula semuanya." (Ad Darimy 1/58 nomor 16)

Minggu, 30 Agustus 2009

RAHSIA SUJUD DIDALAM SOLAT...

Rahsia Sujud Di Dalam Solat
Pernahkah kita terfikir setelah saban usia kita mendirikan solat berserta syarat rukunnya, apakah rukun solat yang paling disukai oleh Allah SWT. Dengan menyelami, memahami, menjiwai serta menghayati setiap detik ibadah atau solat yang dikerjakan barulah kita akan mendapat kemanisan dan faedah darinya. Barulah ibadah kita itu dapat mendinding dan mencegah diri kita dari dosa dan noda. Firman Allah SWT yang bermaksud:-
” Sesungguhnya sembahyang itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (Surah Al-Ankabut ayat:45)
Segala rukun di dalam solat yang melibatkan qalbi (naluri), qauli (lisan) dan fi’li (perbuatan) mempunyai pengertian dan maksud yang amat mendalam sekali di sisi Allah SWT. Segala pergerakan di dalam solat sebenarnya sarat dengan hikmah dan pendidikan dari Allah SWT dan amalan atau rukun yang paling disukai oleh Allah ialah rukun sujud.
Sujud adalah waktu di mana seorang hamba itu paling hampir dengan Penciptanya. Pergerakan sujud itu secara lahirnya telah menunjukkan “rasa menghina dirinya” seseorang hamba itu di depan Tuhannya di dalam keadaan menyerah diri, pasrah, berikrar dan mengaku bahawa
“Ya Allah hanya Engkaulah Tuhan yang layak disembah, ditakuti, dicintai dan hanya pada-Mu sahajalah tempat berserah dan memohon pertolongan”.
Seorang sahabat Nabi SAW iaitu Huzaifah r.a berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:-
“Tiadalah keadaan seorang hamba yang paling disukai oleh Allah daripada Dia melihat hamba-Nya itu di dalam keadaan bersujud, dengan meletakkan mukanya di tanah ( sebagai tamsilan tunduk, pasrah dan rasa hina seorang hamba kepada Allah)”. (Hadis Riwayat Imam Tabrani).
Cerita Sujud:
Semasa malaikat-malaikat disuruh sujud kepada Nabi Allah Adam semua malaikat sujud apabila mereka bangun mengangkat kepala didapati malaikat yang bernama Azazil tidak sujud maka Allah SWT menjadi murka dan melaknat ke atasnya jadilah ia Iblis dengan bertukar rupa. Rupanya seperti kera dan badannya seperti babi justeru para malaikat merasa kecut dan takut lantas mereka sujud sekali lagi kerana syukur tidak kena laknat oleh Allah SWT.
1. SUJUD PERTAMA TAAT (PERINTAH ALLAH)
2. SUJUD KEDUA SYUKUR (HAMBA KEPADA ALLAH)
Tatkala Nabi Muhammad SAW Israk dan Mikraj ketika sampai di langit yang ketiga para malaikat-malaikat di sana sememangnya sujud selama- lamanya tetapi dikehendaki waktu Nabi SAW sampai mestilah mengangkat kepala tanda hormat.
Apabila Nabi SAW memberi salam kepada para malaikat, semua malaikat itu bangun dari sujud kerana menjawab salam dan berkenalan dengan melihat wajah Nabi Muhammad SAW kemudian mereka sujud semula.
Telah bersabda Rasulullah SAW, Bumi keseluruhannya adalah masjid melainkan tempat perkuburan dan tempat mandi.
“Telah dijadikan untuk kita bumi seluruhnya adalah masjid. Maka jangan anda sapu pasir pada tempat sujud kerana rahmat Allah berada di hadapan. Dan berdebu muka ku untuk Allah yang maha Mulia lagi maha Tinggi sebab pasir kerana itulah puncak ibadah kepada Allah Taala. Tidak dikira bersolat bagi mereka yang tidak sampai atau kena hidungnya ke bumi (tanah) seperti juga dahinya”.
Oleh kerana banyak hadis menyebut tentang bumi dan kaitannya dengan sujud maka para ulama bersepakat mengatakan sekurang-kurangnya mesti sekali seumur hidup solat dan sujud di atas bumi dengan tidak berlapik dan jika banyak kali adalah lebih baik. Maka dengan sebab itulah orang-orang yang bermazhab Syiah bersolat di atas bumi atau dengan membawa kemana-mana sapu tangan yang khas ada di atasnya tanah untuk lapik sujud.
Firman Allah SWT yang bermaksud:- ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat Kami ialah orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Kami mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhan dan mereka tidak menyombongkan diri” (Surah As-Sajadah ayat 15).
Di dalam perlakuan sujud itu ada simbolik dan hikmah yang harus fahami dan hayati. Iaitu bersama terancap dan ratanya tujuh anggota badan kita dengan bumi, pergerakan yang sepenuh jiwa, sepenuh rasa hina dan mengharap kepada Allah SWT dan penyerahan secara total seorang hamba terhadap Penciptanya dalam menerima serta mematuhi segala perintah dan larangan dari-Nya. Jangan sampai berlaku, hanya di dalam solat sahaja kita sujud tetapi di dalam kehidupan seharian kita bersifat “jauh api dari panggang” didalam erti kata yang lain kita tidak tunduk, tidak taat dan tidak menyerah secara total kepada peraturan dan sistem Allah yang Maha Sempurna.
Sayugia dilakukan setiap melakukan rukun sujud ketika solat sentiasalah membaharui ingatan kepada Allah SWT (Al-Khaliq). Manakala tunduk meletakkan dahi ketika sujud hendaklah merasakan bahawa ia sedang menghina diri kepada suatu Zat Allah Yang Maha Agung dan apabila ia merasa kehebatan Allah Yang Maha Agung maka ketika itu ia juga harus merasai dirinya itu amat kecil dan terlalu kerdil di hadapan Zat Yang Maha Agung. Sujud bererti seseorang itu telah meletakkan wajahnya ditempat yang paling rendah di atas tanah ini bermakna ia telah meletakkan seluruh dirinya di atas tanah.
Dengan sujud itu bererti telah mengingatkan dirinya terhadap punca asal kejadian manusia itu dari tanah dan mengembalikan dirinya kepada tanah. Apabila ia telah sanggup menghantar dahinya dan juga dirinya ke tempat yang hina maka tidak mungkin ia akan bersikap sombong lagi terhadap Allah yang menciptakan dirinya dari tanah itu.
Sesungguhnya asal kejadian manusia itu seperti yang dijelaskan di dalam Al-Quran adalah dijadikan dari tanah maka setiap kali seseorang itu sujud adalah bertujuan mengasuh hatinya bahawa ia kelak akan dikembalikan kepada tanah iaitu menemui kematian seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Dengan demikian bererti sujud itu juga mengasuh hati manusia bukan saja supaya mengingat akan asal kejadiannya tetapi juga akan dikembalikan ke tanah iaitu menemui ajal kematian. Maka setiap kali sujud sewajarnya seseorang itu sentiasa ia mengingati akan mati, apabila ia ingat akan mati maka terasa seolah-olah bahawa solatnya itu sebagai solat penghabisan kerana ia akan menghantarkan dirinya ke tanah. Ia merasakan bahawa setiap kali ia sujud seolah-olah ia tidak akan bangun lagi. Sedangkan kematian itu merupakan pintu bagi seseorang memasuki gerbang akhirat.
Dalam keadaan demikian maka hati akan merasa gerun dan merasai kebesaran Allah dan ketika itulah ia membaharui lagi di dalam hatinya untuk mensucikan Zat Allah Yang Maha Tinggi disamping lidah tidak bertulang mengucapkan, “Subhana Rabbial- A’la wa-Bihamdih”.
Sujud bukan sahaja mendekatkan kita dengan Allah SWT tetapi dari sudut perubatan pun ada hikmahnya. Antara hikmah sujud menurut keterangan perubatan ialah:-
1. Membetulkan buah pinggang yang terkeluar sedikit dari tempat asalnya.
2. Membetulkan pundi peranakan yang jatuh.
3. Melegakan sakit hernia.
4. Mengurangkan sakit senggugut ketika haid.
5. Melegakan bahagian paru-paru dari ketegangan.
6. Mengurangkan kesakitan pada apendiks atau limpa.
7. Meringankan bahagian pelvis.
8. Menggerakkan otot bahu, dada, leher, perut, punggung ketika akan sujud.
9. Gerakan otot-otot ini menjadikannya lebih kuat dan elastik, secara automatik memastikan kelancaran darah.
10. Bagi wanita gerakan otot ini menjadikan buah dadanya lebih baik dan mudah berfungsi untuk menyusukan bayi.
11. Gerakan bahagian otot memudahkan wanita bersalin, organ peranakan mudah kembali ke tempat asal .
12. Mengurangkan kegemukan.
13. Otak manusia (organ terpenting) menerima banyak bekalan darah dan oksigen.
14. Kedudukan sujud paling baik untuk berehat dan mengimbang lingkungan bahagian belakang tubuh.
15. Memberi dorongan untuk mudah tidur.
Selain itu kesan sujud yang lama akan menambahkan kekuatan aliran darah ke otak yang boleh mengelakkan pening kepala dan migrain, menyegarkan otak serta menajamkan akal fikiran sekali gus menguatkan mentaliti kita (terutama ketika sujud waktu solat Subuh).

MENGINGATI KEMATIAN

Mengingati Kematian
Setiap makhluk, tidak boleh melarikan diri daripada mati, termasuk binatang, jin, malaikat, termasuk malaikat yang mengambil nyawa. Kematian adalah satu hakikat hidup. Dalam surah al-Ahzab, ayat 16 dijelaskan: Katakanlah, lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri daripada kematian atau pembunuhan dan jika kamu terhindar dari kematian, kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar sahaja.
Ketika ditanya tentang kematian, baginda menjawab bahawa manusia yang baik ialah mereka yang baik budi dan akhlaknya, manakala manusia yang terkaya adalah mereka yang banyak ingatkan mati, juga baik persediaannya.
Dalam sebuah hadis lain, Rasulullah ada bersabda yang bermaksud: Orang yang sempurna akalnya ialah mereka yang selalu memperbaiki dirinya dan beramal untuk bekalan mati. Sedangkan orang yang bodoh ialah mereka yang selalu menurutkan hawa nafsunya, tetapi berharap keampunan Allah tanpa amal.
Allah menyuruh agar setiap orang mengingati mati, kerana dengan berbuat demikian, manusia akan sentiasa ingatkan diri, melakukan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Keterangan ini dijelaskan dalam surah al-Baqarah: 94 yang bermaksud, Katakanlah, jikalau kamu menganggap bahawa kampung akhirat (syurga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka ingatkanlah kematian, jika andainya kamu memang benar.
Walaupun demikian, mereka yang banyak melakukan dosa, inad dan derhaka kepada Allah, mati itu merupakan sesuatu yang menakutkan. Mereka tahu tentang balasan baik dan jahat di akhirat kelak, namun leka tidak menyediakan bekalan baginya.
Mengenai sikap golongan ini Allah berfirman (al-Baqarah: 95), yang bermaksud: Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama- lamanya, kerana kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang yang melakukan kezaliman.
Keterangan di atas menjelaskan bahawa kematian itu sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Bagi mereka yang beriman dan cukup persediaan menjadikan hidup di dunia ini sebagai tempat semaian akhirat, menganggap bahawa dunia ini hanya tempat laluan untuk negeri yang kekal, iaitu akhirat.
Bagi mereka yang kelu dan terpesona dengan keghairahan dunia, yang selama ini menganggap dunia ini terlalu mengasyikkan, mati bererti kemusnahan segala-galanya, pada hal hidup di dunia ini hanya sesuatu yang mempesonakan lagi penuh dengan tipu daya. Apabila diperingatkan dengan seksa ketika berhadapan dengan sakaratul maut, juga soalan- soalan kubur, terbentang dalam pemikiran tentang seksa-seksa yang mengerikan tadi.
Mengingati mati bukan bererti memaksa atau menutup segala keindahan hidup di dunia. Rasulullah SAW menyuruh agar setiap orang insaf dengan mengingati mati, kerana mengingati mati itu satu jalan yang paling memberi kesan bagi memperoleh keinsafan diri. Baginda menyuruh agar orang yang beriman itu menziarahi kubur, kerana dengan berbuat demikian, ia akan memperingatkan akhirat, iaitu mati.
Baginda juga menyuruh agar memandikan mayat, kerana perbuatan mengendalikan jasad yang keras kaku itu merupakan satu peringatan yang mendalam kesannya. Baginda juga menyuruh agar menyembahyangkan jenazah, semoga dengan berbuat demikian akan menyedarkan diri, sesungguhnya orang yang sedih insafkan diri itu sentiasa dalam lindungan Allah, di mana ia akan memperoleh kebaikan.
Memang banyak hadis yang membicarakan tentang seksaan sakaratul maut, juga seksaan di kubur. Ada yang menggambarkannya seperti dipancung dengan pedang. Ketika itu lidah menjadi kelu, tidak berupaya meminta tolong. Ada pula hadis yang menjelaskan sakaratul maut itu tidak ubah seperti kambing yang dilayat hidup-hidup oleh tukang sembelih. Selain daripada itu, seksaan juga terjadi ketika melihat malaikat maut, gambaran bakal balasan yang akan diterima juga tempatnya di akhirat kelak.
Beriman
Rasulullah SAW menjelaskan bahawa apabila seseorang yang beriman itu hampir mati, ia akan didatangi oleh malaikat yang membawa bersamanya sehelai kain sutera, yang ada padanya kasturi, anbar dan harum-haruman.
Maka keluarlah rohnya seperti tercabutnya sehelai rambut daripada adunan tepung dan diucapkan: Wahai jiwa yang tenang, keluarlah dalam keadaan reda dan diredai ke atasmu kepada menemui Allah dan kemuliaan-Nya. Maka apabila rohnya itu keluar, dia diletakkan di atas kasturi, anbar dan raihan, lalu kain itu dilipat dan dibawa bersama dengannya ke Illiyiin.
Hadis di atas menjelaskan bahawa roh orang yang beriman dicabut dengan penuh hormat dan kasih sayang dengan perintah Allah, lalu roh tadi keluar dalam keadaan reda dan terlalu ingin bertemu Allah. Apabila hamba itu reda, maka Allah lebih reda untuk menemuinya. Kemudian roh itu dibawa pergi meninggalkan jasad yang terlantar, dibawa bersama ke Illiyiin, satu tempat yang tinggi di syurga.
Ketika menziarahi seorang lelaki kaum Ansar yang hampir meninggal dan melihat malaikat maut yang ada di hujung kepala lelaki berkenaan Baginda bersabda: "Ya malaikat maut, berlembutlah kepada sahabatku, sesungguhnya dia adalah seorang yang beriman." Malaikat menjawab, "Tenangkan dan yakinkan dirimu. Sesungguhnya aku bersikap lemah lembut kepada setiap orang yang beriman."
Abu Masud pernah menyatakan bahawa apabila Allah mahu mengambil roh orang yang beriman, Dia mewahyukan kepada malaikat yang Allah mengirim salam kepadanya. Apabila malaikat itu datang kepada orang yang berkenaan, ia memberitahu kepada hamba tadi yang Allah mengirim salam kepadanya.
Roh manusia tidak akan berpisah daripada jasadnya, sehinggalah Allah memperlihatkan di mana roh itu akan diletakkan kelak, sama ada di syurga ataupun di neraka. Bagi orang yang beriman, tentunya syurga tempatnya dengan belas ihsan Ilahi seperti yang telah ditetapkan dalam janji-janji-Nya.
Keterangan hadis-hadis di atas menjelaskan ketenangan akan diperoleh oleh setiap orang yang beriman ketika sedang berhadapan dengan sakaratul maut. Allah mewahyukan malaikat agar menyampaikan salam kepada hamba berkenaan sebelum nyawa yang dipinjamkan itu diambil kembali. Satu tanda kasih Allah kepada hamba-Nya yang dikasihi.
Ketika mengambil nyawa, malaikat mengambilnya dengan penuh hati-hati dan timbang rasa tidak ubah seperti menarik rambut daripada adunan tepung. Rambut halus tidak putus dan tepung tidak bertaburan. Dalam masa yang sama Allah akan perlihatkan syurga sebagai tempatnya yang kekal abadi.
Hidup di dunia penuh dengan perjuangan yang perlu dilakukan dengan kekuatan fizikal juga memerah otak. Mereka yang mempunyai kekuatan akan berjaya mengatasi yang lemah. Biarpun berjaya, manusia tidak lepas daripada menghadapi pelbagai masalah yang lahir dari diri sendiri juga orang lain, termasuk keluarga yang disayangi. Selain daripada menerima pelbagai masalah akibat kesilapan diri, masalah sering berlaku akibat faktor luaran yang tidak disangka. Demikianlah nature hidup yang hakikatnya mengikis dan memamah sebahagian daripada usia setiap orang.
Bagi orang yang beriman, mati itu merupakan rehat daripada pelbagai perjuangan dunia yang tidak berpenghujung. Kerana itu apabila diperlihatkan syurga, ia terlalu ingin untuk tinggal di dalamnya dan mahu meninggalkan dunia ini secepat mungkin. Walaupun segala-galanya ini tidak akan berlaku, kecuali dengan mati terlebih dahulu. Kerana itu tidak ada jalan lain untuk ke syurga kecuali mati. Mati bererti menemui Tuhan. Orang yang beriman terlalu ghairah untuk menemui Tuhan dan reda dengannya. Dalam keadaan seperti ini, Allah amat reda untuk menemuinya.
Dalam sebuah hadis daripada Saidina Abdullah bin Abbas r.a dinyatakan bahawa malaikat maut itu seperti orang muda yang sangat baik rupa parasnya. Pakaiannya juga begitu baik dan sangat harum baunya. Nabi Ibrahim berkata, kalaulah seorang yang beriman itu melihat mukanya ketika hampir mati, penglihatan itu sudah cukup untuk menggembirakan hatinya.
Nikmat
Memang terdapat hadis-hadis membicarakan tentang azab ketika sakaratul maut. Namun kesakitan itu akan luput tidak terasa dengan keghairahan menemui Allah, setelah melihat nikmat syurga yang diperlihatkan, salam Allah kepada orang yang beriman, ketenangan melihat rupa malaikat dan perilaku malaikat ketika nyawa dicabut daripada jasad.
Orang yang beriman adalah kekasih Allah. Orang yang berkasih-kasih tidak akan menyeksa kekasihnya, malah akan berkorban melakukan sesuatu yang terbaik dan memelihara juga melindunginya. Andainya ini boleh berlaku di kalangan manusia, iaitu makhluk yang lemah dan kekurangan, apakah mustahil Allah Yang Maha Agung lagi berkuasa untuk memberi kenikmatan kepada kekasih-Nya ketika sakaratul maut.
Allah menjanjikan kebahagiaan dan nikmat bagi mereka yang taat kepada-Nya, tidak melakukan maksiat atau kesalahan. Apabila melakukan kesalahan, dengan segera seseorang itu bertaubat dan tidak mengulanginya. Kerana itu, bagi mereka yang beriman, ada rasa yakin kepada Allah, tidak perlu gundah atau terganggu apabila teringatkan mati.
Pengalaman yang saudara alami bukan sesuatu yang mustahil. Apa yang berlaku adalah bergantung kepada iman dan pemahaman seseorang terhadap Allah, yang diperoleh daripada ilmu tauhid yang dipelajari.
Semuanya berdasarkan dalil-dalil daripada al-Quran, hadis-hadis dan sebagainya yang dalam banyak hal dapat difikiri logiknya oleh akal. Itulah yang dinamakan iman, yang menentukan sama ada seseorang itu akhirnya ke neraka atau syurga Allah SWT.

Kasih Seorang Ibu

Jalannya sudah tertatih-tatih karena usianya sudah lebih dari 70 tahun. Kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Di samping itu, keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah. Tetapi, ia tetap mempertahankannya. Oleh sebab itulah ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yang harus ditanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapat kecupan manis ataupun ucapan selamat dari siapa pun juga. Yang ia dapatkan hanya cemoohan karena telah melahirkan seorang bayi "haram" tanpa bapak.

Walaupun demikian, ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan karena kepadanya telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki untuk putrinya seorang. Oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love 'Kasih'.

Siang ia harus bekerja berat di pabrik, dan malam ia harus menjahit sampai larut, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang bisa ia dapatkan. Terkadang, ia harus menjahit sampai jam dua pagi. Tidur lebih dari empat jam sehari adalah suatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan, Sabtu-Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restoran. Ini semua ia lakukan agar ia bisa membiayai hidup dan sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi karena ia masih tetap mengharapkan bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang kembali kepadanya. Di samping itu, ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya, ia menjadi seorang vegetarian karena ia tidak mau membeli daging. Itu terlalu mahal baginya. Uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri, ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.

Pada suatu saat, ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luar dingin sekali karena pada saat itu musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya. Walaupun cuaca di luar dingin sekali, dalam keadaan sakit dan lemah ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja.

Sejak saat itu, ia terkena penyakit rematik sehingga sering kali badannya terasa sangat nyeri. Ia ingin memanjakan putrinya dan memebrikan hanya yang terbaik bagi putrinya, walaupun untuk ini ia harus berkurban. Jadi, dalam keadaan sakit ataupun tidak sakit, ia tetap bekerja. Selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.

Karena perjuangan dan pengurbanannya, akhirnya putrinya bisa melanjutkan studi di luar kota. Di sana, putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restoran. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itu pun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu, bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar putrinya karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari, ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putra, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu.

Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya. Tetapi, hal itu tidak mungkin sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Ia berdoa tiap hari kepada Tuhan agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya. Karena keinginannya sedemikian besar untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali karena lamarannya diterima dan ia diperbolehkan bekerja di sana. Di rumah putrinya, ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan bahwa permohonannya telah dikabulkan.

Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu, sering sekali ia dibentak dan dimaki oleh putrinya, darah dagingnya sendiri. Kalau hal ini terjadi, ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dalam kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya. Ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya karena ia sangat menyayangi putrinya.


Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya di rumah tersebut, akhirnya ia sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo. Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pensiun yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, pikirnya, siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.

Pada tahun lampau, beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi kali ini ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu, ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang telah ia kumpulkan selama hidupnya sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.

Suhu di luar telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salju pun turun dengan lebatnya. Jangankan manusia, anjing pun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi karena di luar sangat dingin. Tetapi, nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin bertemu dengan putrinya sekali lagi untuk terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luar. Ia harus dua kali ganti bus karena jarak rumah jompo tempat ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dalam keadaan sakit.

Setiba di rumah putrinya, dalam keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata putrinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegur : "Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!"

"Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja karena di luar dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!" kata wanita tua itu. "Maaf, saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali, kalau mau datang telepon dulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" ucap putrinya dengan nada kesal. Setelah itu, pintu ditutup dengan amat keras.

Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihan pun tidak ada.

Setelah beberapa saat kemudian, bel rumah berbunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya. "Maaf bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelepon ke kantor polisi sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!"



Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta, yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.

Seorang ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang ataupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin, dan ini 366 hari dalam setahun.

taken from : Pelangi Kehidupan 1 by Teha Sugiyo

PUASA TAPI TIDAK SOLAT..

Puasa tapi tidak solat
JAWAPAN: Kita semua tahu bahawa agama itu adalah satu ajaran yang menyeluruh dan tidak harus dipilih atau dipisahkan. Sebab itu Rasulullah SAW menggambarkan ibadat solat seperti tiang agama manakala ibadat lain pula seperti atap, dinding dan sebagainya. Tentulah tidak dinamakan rumah sekiranya ada dinding tanpa tiang dan atapnya kerana ibadat itu bila sudah sempurna rukun dan syaratnya maka dikira sah tetapi tidak cukup dan belum sempurna. Maknanya ia dikira sah sahaja dan belum tentu diterima Allah SWT kerana belum ada asas dan tiangnya. Di mana kita boleh dirikan dinding tersebut selagi tiangnya belum ditegakkan? Begitulah contohnya lebih kurang apabila seseorang itu hanya berpuasa tetapi tidak bersolat dan sebagainya. Demikian juga mereka yang beriman dengan separuh dan sebahagian ajaran al-Quran dan kufur dengan sesetengah ajaran yang lain. Renungi firman Allah SWT sebagai balasan-Nya kepada mereka yang bersikap demikian iaitu firman-Nya bermaksud: Maka tidak ada balasan kepada mereka yang berlaku demikian (beriman dengan setengah kitab dan kufur dengan setengah yang lain) selain kehinaan di dunia ini dan pada hari akhirat nanti dia akan ditolak ke dalam azab seksa yang sangat hebat dan Allah tidak pernah lupa tentang segala perbuatan kamu" (al-Baqarah ayat 85). Kemungkinan besar ibadat puasa tersebut tidak diterima kerana dilakukan bukan ikhlas kepada-Nya tetapi hanya sebab lain. Ini kerana sekiranya seseorang beribadat semata-mata kerana Allah, pasti solat juga dilakukannya dengan ikhlas dan tidak dapat dipisah-pisah begitu, kerana semuanya adalah kewajipan dan perintah Tuhan yang menciptakannya. Biasanya mereka yang tidak ikhlas tidak dapat berpuasa dengan baik dan sempurna, malah dia makan atau minum jika ada kesempatan di mana-mana. Sebab itu puasa ini adalah ibadat yang Allah saja dapat memberi balasan pahala kerana ianya merupakan rahsia antara hamba dan Tuhannya. Justeru itu, Nabi dalam hadis qudsi bersabda bermaksud: Segala amalan manusia ini dia sendiri yang punya (boleh dilakukannya sesuka hati) melainkan puasa sahaja, yang aku punya, maka Akulah yang dapat membalas dan menilainya" HR Muslim. Wallahualam.

Kemuliaan Yang kekal Abadi

JIKA ENGKAU BERKEHENDAKKAN KEMULIAAN YANG ABADI JANGANLAH ENGKAU MENCARI KEMULIAAN YANG SEMENTARA.

Manusia mencari kemuliaan melalui berbagai-bagai cara. Mereka mencarinya melalui harta, pangkat dan kekuasaan. Ada yang mencarinya melalui ilmu dan amal. Ada yang mencarinya melalui wajah yang cantik dan suara yang merdu. Ada pula mencarinya melalui tindakan yang menantang seperti terjun dari tempat yang tinggi. Semua kemuliaan yang diperoleh dengan cara demikian bersifat sementara. Bila orang yang berkenaan berpisah dari hal yang menjadikannya mulia maka hilang juga kemuliaan yang dimilikinya. Semua kemuliaan tersebut adalah fatamorgana. Orang yang berpangkat, berkuasa dan berharta akan tidak berasa mulia lagi bila berhadapan dengan orang yang tinggi pangkatnya, lebih besar kuasanya dan lebih banyak hartanya. Orang yang dimuliakan kerana kecantikannya tidak dimuliakan lagi apabila wajahnya sudah berkerut. Orang yang dimuliakan kerana kemerduan suaranya tidak dimuliakan lagi bila ada orang lain yang lebih merdu suaranya. Orang yang dimuliakan kerana berani terjun dari tempat yang tinggi tidak dimuliakan lagi bila ada orang lain yang lebih berani terjun dari tempat yang lebih tinggi.

Orang yang memiliki kemuliaan yang bersifat sementara itu tidak dapat merasakan kedamaian karena resah kemuliaannya akan ditandingi oleh orang lain. Orang yang dimuliakan karena ilmu juga galau, takut ada orang lain yang lebih berilmu akan mengambil alih kedudukannya. Orang yang dimuliakan kerana kekuatan amal kebaikannya, masih juga bimbang takut orang mengetahui akan keburukannya yang lalu atau yang tersembunyi. Semua kemuliaan tersebut akan berakhir apabila manusia mengalami kematian. Jasadnya dikebumikan di dalam tanah dan kemuliaannya ditinggalkan di atas kuburnya.

Jika diperhatikan, didapati bahwa apa yang dikatakan kemuliaan bukanlah apa yang dimiliki dan bukan apa yang diletakkan oleh orang lain kepada seseorang itu. Kemuliaan dan kemegahan adalah perasaan yang timbul di dalam hati. Ada orang yang kuasanya tidak seberapa tetapi sudah merasakan sangat mulia. Ada orang yang hanya menjadi pemandu raja tetapi sudah berasa mulia seperti raja. Ada orang yang namanya disebutkan oleh pembesar negeri di hadapan khalayak ramai, pun sudah merasakan dirinya mulia.

Kemuliaan dan kemegahan yang dibina di atas tapak zahir alam juga bersifat tipu daya, bukan asli dan sama sekali tidak kekal. Kemuliaan dan kemegahan yang demikian hanyalah sangkaan.

Tidaklah patut mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan dan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu, kerana sesungguhnya kekuatan dan kemuliaan itu ialah milik Allah, (diberikan-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya). ( Ayat 139 : Surah an-Nisaa’ )

Hanya Allah s.w.t yang memiliki kemuliaan. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat mengwujudkan kemuliaan. Apa yang dicipta oleh makhluk hanyalah gambaran yang menurut sangkaan. Kemuliaan sejati hanya milik Allah s.w.t. Jalannya adalah dengan mengambil perhatian kepada aspek batin yang bersangkutan dengan ketuhanan. Hamba Allah s.w.t yang tidak tertipu oleh zahirnya alam akan terus berpegang pada aspek batinnya yang memberi peringatan dan petunjuk. Mereka bersabar dalam menempuh gelombang takdir Ilahi sehingga mereka terdampar di pantai keredaan Ilahi.

Tauhidlah kemuliaan yang sejati dan abadi. Tauhid mengajarkan hanya Allah s.w.t Yang Maha Esa, Maha Mulia, tidak yang lain. Apabila hati seseorang sudah dipenuhi oleh tauhid maka ia dipenuhi oleh kemuliaan. Kemuliaan yang dipancarkan oleh tauhid tidak akan rusak binasa.

Hati yang sudah penuh dengan kemuliaan Allah s.w.t tidak lagi menghiraukan penghinaan makhluk. Ia tidak berakhir dengan kematian, kerana Allah s.w.t tidak binasa dan kemuliaan-Nya juga tidak binasa. Ia tetap mulia di dalam kuburnya, mulia ketika dibangkitkan dari kuburnya dan lebih mulia lagi di akhirat yang kekal abadi.

"wallohu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun"


Al HIkam - IBnu Atthaillah